Sejarah Batik

Batik, Fashion

Menggunakan lilin sebagai metode perlawanan untuk mewarnai kain adalah praktik kuno. Penggalian arkeologis di Mesir telah menemukan sampel linen yang ditutupi lilin dan bermotif dengan alat tajam yang digunakan untuk membungkus mumi yang berasal dari abad ke-4 SM. Bukti metode pewarnaan tahan lilin telah ditemukan di Cina, India, Jepang dan Afrika Barat dari abad ke 6 dan 7 Masehi. Sejarah produksi batik di Indonesia ada sebelum catatan tertulis yang menyebabkan perselisihan di antara para sejarawan mengenai asal mula batik di Nusantara. Salah satu argumen adalah bahwa metode tahan-lilin dibawa ke Jawa oleh para penjelajah Hindu pada abad ke-7 Masehi. Namun, ada tradisi pembuatan batik di bagian Indonesia yang tidak secara langsung dipengaruhi oleh agama Hindu seperti Flores dan Halmahera, yang menunjukkan bahwa batik berkembang secara mandiri.

Di Jawa, contoh-contoh pola yang sangat rumit terkait dengan batik telah ditemukan dalam ukiran pada patung candi yang berasal dari abad ke-13, menunjukkan bahwa metode seperti itu sudah umum. Sejarawan G.P. Rouffaer berpendapat bahwa pola-pola ini hanya dapat diproduksi dengan alat canting (atau tjanting): corot tembaga pada pegangan bambu yang digunakan dalam pembuatan batik. Kain batik dijelaskan dalam Sejarah Melayu, sejarah raja-raja kepulauan Melayu, sejauh abad ke-17, dan penjelajah Belanda di era yang sama terkesan oleh ‘… kain, sangat dihiasi’.

Kata ‘batik’ kemungkinan besar berasal dari kata Jawa amba (‘to write’) dan titik (‘dot’ atau ‘point’) yang tercermin dalam berbagai contoh yang dicatat sebagai mbatik atau mbatek. Kata pertama kali muncul dalam bahasa Inggris pada tahun 1880, dieja ‘battik’.

Perkembangan dan kecanggihan yang lebih besar dari batik menjadi mungkin pada abad ke-19 dengan impor kain tenun berkualitas tinggi dari India dan Eropa. Produksi batik dibahas oleh Sir Thomas Stamford Raffles, gubernur Inggris di Jawa dalam bukunya tahun 1817, Sejarah Jawa dan kain batik menjadi semakin dihargai oleh para kolektor di Eropa. Abad ke-19 menjadi zaman keemasan sejati bagi batik sebagai bagian integral dari budaya Jawa. Desain yang berbeda menjadi identik dengan upacara yang berbeda dan untuk bagian masyarakat yang berbeda. Ada pola-pola khusus untuk penggunaan Sultan, keluarga kerajaan, pelayan kerajaan, dan banyak stasiun lainnya dalam kehidupan. Batik memainkan peran integral dalam banyak upacara Jawa penting, seperti untuk kehamilan pertama, upacara penamaan anak, dan persembahan kepada para dewa. Penggunaan alat canting menjadi bagian penting dari keterampilan domestik seorang wanita muda Jawa, setara dengan masakan.

Ketika populasi Jawa meningkat pada akhir abad ke-19, metode tradisional yang rumit dan memakan waktu terbukti tidak dapat memenuhi permintaan. Berbagai metode hemat waktu digunakan, termasuk menuangkan lilin secara terkontrol, dan aplikasi lilin dengan kuas. Pada akhir abad ini, tutupnya (dilafalkan dengan huruf c) ditemukan. Ini adalah cap tembaga, diukir dengan desain rumit, yang dilapisi dengan lilin dan diaplikasikan pada kain. Metode ini merevolusi produksi batik karena memungkinkan desain rumit untuk diproduksi secara massal dan secara drastis mengurangi waktu yang diperlukan untuk masing-masing bagian. Produksi batik berkembang lebih jauh menjadi batik cetak, yang menggabungkan pola dan warna metode tradisional dengan metode pencetakan kain massal modern. Cetak batik jauh lebih cepat dan lebih murah untuk diproduksi, sehingga menurunkan harga bagi konsumen sehingga sebagian besar batik untuk dijual hari ini diproduksi secara massal di pabrik-pabrik. Namun, batik tradisional yang diproduksi sendiri masih tersedia, yang dikenal sebagai batik tulis, dan dapat berharga ribuan dolar mewakili jumlah waktu, tenaga dan kesabaran yang dihabiskan untuk setiap helai kain.

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*